Pemantapan nilai-nilai keharmonisan di lingkungan masyarakat, salah satunya menjaga lisan
اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ،
وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا
الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ
سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و
سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ
وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأيُّهَا
الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ
مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمْ: يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ
لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله
وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ
آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ
Jamaah Jumat hafidhakumullah,
Sebuah pepatah bahasa Arab menyatakan bahwa keselamatan seseorang
bergantung pada cara bagaimana ia menjaga lisannya. Pepatah itu berbunyi:
سَلَامَةُ
اْلإِنْسَانِ فِي حِفْظِ اللِّسَانِ
“Keselamatan manusia terletak dalam menjaga lisannnya.”
Pepatah itu mengingatkan sedemikian kuat hubungan antara keselamatan seseorang dengan kemampuan menjaga lisannya. Dalam kaitan ini Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam kitab beliau berjudul Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudhâharah wal Muwâzarah (Dar Al-Hawi, 1994, hal. 83-84) menasihatkan tujuh adab menjaga lisan sebagai berikut:
Pertama,
وَإِيَّاكَ
وَاْلخَوْضَ فِيْمَا لَا يَعْنِيْكَ.
“Hendaklah Anda tidak melibatkan diri dalam hal-hal yang tidak ada
gunanya bagi anda.”
Bergaul adalah baik dan dianjurkan, tetapi dalam pergaulan harus
dihindari hal-hal yang tak ada gunanya dan apalagi mendatangkan madharat,
seperti ghibah atau menggunjing. Mencampuri urusan orang lain yang jelas-jelas
bukan kewenangan kita juga termasuk hal-hal yang semestinya dihindari sebab
tidak jarang menimbulkan ketidak senangan dari pihak yang merasa dilangkahi
atau dicampuri urusannya.
Kadang-kadang kita menerima curhat dari seseorang. Kita tentu saja
boleh memberikan masukan-masukan agar permasalahan yang dihadapi segera
terselesaikan. Tetapi kita harus sadar sejauh mana kita boleh memberikan
masukan agar tidak terlalu jauh masuk ke wilayah orang lain. Hal seperti ini
bisa menimbulkan masalah baru jika ada pihak-pihak yang merasa telah diganggu
wilayah kewenangannya.
Kedua,
وَإِيَّاكَ
وإكثَارَ اْلحَلْفِ بِاللهِ وَلَا تَحْلِفْ بِهِ تَعَالَى إِلَّا صَادِقً عِنْدَ
اْلحَاجَةِ
”Jangan sering-sering bersumpah demi Allah, dan jangan bersumpah
demi nama-Nya kecuali memang benar-benar mendesak.”
Sering menyebut nama Allah tentu saja baik sebab merupakan dzikir.
Tetapi jika penyebutannya merupakan sumpah yang bersifat main-main, hal ini
tentu saja tidak baik. Sumpah dengan berucap والله “Demi Allah” dapat
dibenarkan jika bersifat sungguh-sungguh. Imam al-Harits al-Muhasibi dalam
kitabnya berjudul Risâlah al-Mustarsyidin, halaman 136, mengingatkan kita untuk
tidak sering-sering bersumpah sebagaimana kutipan berikut:
وَلَا
تُكْثِرِ الْأَيْمَانَ وَإِنْ كُنْتَ صَادِقًا
“Dan janganlah sering bersumpah meskipun engkau
benar.”
Jadi sekalipun kita jujur dan dalam posisi benar, janganlah kita mengobral sumpah apalagi disertai dengan ucapan والله “Demi Allah”. Namun dalam keadaan genting atau mendesak, seperti dalam proses hukum di pengadilan, bersumpah “Demi Allah” adalah tepat.
Jamaah Jumat hafidhakumullah,
Ketiga,
وَاحْذَرْ
اْلكَذِبَ بِجَمِيْعِ أَنْوَاعِهِ فَإِنَّهُ مَنَاقِضٌ لِلْإِيْمَان
”Hindarilah segala macam kebohongan sebab hal itu berlawanan dengan
iman.”
Secara umum berbohong adalah dosa kecuali keadaan memaksa demi
kemaslahatan bersama yang lebih luas. Artinya sebagian besar kebohongan adalah
haram sehingga sebanyak mungkin harus dihindari. Sudah banyak terbukti kebobongan sebetulnya
tidak hanya merugikan diri sendiri tetapi juga kepada orang lain yang
mempercayainya. Kekacauan bisa timbul akibat kebobongan berupa fitnah yang
tersebar dan dipercayai masyarakat. Tidak jarang terjadi kerusuhan dalam
masyarakat bermula dari maraknya kabar bohong atau hoaks. Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda bahwa kebohongan merupakan salah
satu tanda orang munafik sebagaimana hadits berikut:
آيَةُ
الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا
اؤْتُمِنَ خَانَ
“Pertanda orang munafiq ada tiga: Apabila berbicara
bohong, apabila berjanji mengingkari janjinya dan apabila dipercaya berbuat
khianat” (HR al-Bukhari).
Jamaah Jumat hafidhakumullah,
Keempat,
.وَاْلغِيْبَةَ وَالنَّمِيْمَةَ وَاْلإكْثَارَ مِنَ اْلمُزَاحِ
”Jauhkan dirimu dari pergunjingan dan fitnahan serta bercanda secara keterlaluan.”
Menggunjing,
memfitnah, dan bercanda yang kelewatan adalah tidak baik. Seorang Muslim
hendaklah selalu berusaha menghindari ketiga hal ini karena berpotensi besar
menimbulkan ketidak nyamanan dan bahkan permusuhan. Dalam Islam menggunjing diibaratkan memakan
bangkai saudara sendiri yang telah mati. Fitnah, sebagaimana disebutkan dalam
Al-Qur’an, adalah lebih kejam dari pada pembunuhan.
Allah subhanu wa ta’ala berfirman:
وَالْفِتْنَةُ
أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِۚ
“Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan” (Al-Baqarah: 91).
Demikian pula
becanda yang keterlaluan atau kelewat batas tidak hanya sia-sia tetapi juga
bisa membuat orang lain marah karena merasa tersinggung.
Jamaah Jumat hafidhakumullah,
Kelima,
وَاجْتَنِبْ
سَائِرَ اْلكَلَامِ اْلقَبِيْحِ،.
“Hindarilah
setiap ucapan keji.”
Berbicara kepada orang lain adalah salah satu
cara berkomunikasi dalam kerangka silaturrahim. Hal ini tentu saja baik. Tetapi
jika dalam pembicaraan itu mengandung ucapan-ucapan keji sudah pasti tidak baik
sebab Islam justru menganjurkan supaya kita berbicara yang baik. Oleh karena itu, ucapan-ucapan keji seperti
misuh-misuh dan hujatan-hujatan dengan menggunakan kata-kata kotor harus
dihindari sebanyak mungkin demi kerukunan dan perdamaian bersama. Hal ini
berlaku untuk semua pihak karena pada dasarnya persoalan kerukunan dan
perdamaian menjadi tanggung jawab bersama.
Keenam,
. وَأمْسِكْ عَنْ رَدِيءِ اَلكَلَامِ كَمَا تُمْسِكُ عَنْ مَذْمُوْمٍ
"Jagalah lisanmu dari ucapan yang kurang baik apalagi yang
tercela.”
Ucapan yang kurang baik dan apalagi yang tercela harus dihindari
sebanyak mungkin. Contoh dari ucapan yang kurang baik adalah penggunaan
kata-kata yang menghina atau merendahkan orang lain. Atau ungkapan-ungkapan
yang menampakkan kesombongan baik di mata manusia, dan apalagi di hadapan Allah
subhanhu wa ta’ala.
Untuk menghindari hal seperti, sebaiknya kita membiasakan diri
bertawadhu’ atau berendah hati kapanpun dan dimanapun kita berada. Kebiasaan
yang baik seperti itu akan lebih menjamin keselamatan dan nama baik kita baik
hadapan manusia maupun di hadapan Allah subhanu wa ta’ala. Di akhirat pun kita
akan selamat dari ancaman api neraka karena neraka adalah tempat yang sesuai
bagi orang-orang sombong.
Ketujuh,
.. وَتَفَكَّرْ
فِيْمَا تَقُوُلُ قَبْلَ أَنْ تَقُوُلَ فَإِنْ كَانَ خَيْرًا فَقُلْ وَإِلَّا
فَاصْمُتْ.
“Pikirkan
baik-baik apa yang akan Anda ucapkan sebelumnya. Jika itu baik menurut Anda,
katakanlah. Jika tidak, diamlah.”
pepatah berbunyi, “ Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna.” Pepatah ini sejalan dengan apa yang dinasihatkan oleh Allamah Sayyid Abdullah al-Haddad di atas.
Jadi pada prinsipnya kita tidak boleh grusa-grusu dalam berucap atau menucapkan sesuatu tanpa mempertimbagkan tentang manfaat dan madharatnya. Di era digital sekarang pula hendaknya setiap kita menjaga diri dari berbicara atau menuliskan komentar yang tidak jelas manfaatnya. Karena hal tersebut berdampak atau berisiko terhadap diri sendiri atau orang lain dari apa yang akan kita katakan dan ketikan.
Sekiranya tidak ada manfaat dan bahkan membawa madharat baik bagi diri sendiri maupun orang lain, maka sebaiknya kita urungkan niat kita untuk mengatakan sesuatu tersebut. Sikap memilih diam demi menjaga semua pihak seperti ini sangat berharga karena diam adalah emas sebagaimana kata pepatah.
Jamaah Jumat
hafidhakumullah,
Demikianlah
ketujuh adab menjaga lisan sebgaiamana nasihat Allah Sayyid Abdullah bin Alawi
al-Haddad yang patut kita perhatikan baik-baik. Semoga kita semua termasuk
orang-orang yang mendapat rahmat dan pertolongan dari Allah subhanahu wata’ala
sehingga dapat melaksanakan ketujuh adab tersebut dengan sebaik-baiknya. Dengan
cara ini insya Allah lisan kita akan terhaga dari hal-hal yang dapat mengacam
keselamatan kita baik di dunia maupun di akhirat. Amin ya rabbal alamin.
Demikian uraian
dari kami, terimakasih atas segala perhatian dan mohon maaf atas segala
kekurangan.
حسبنا الله ونعم الوكيل
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Komentar
Posting Komentar