Menuntut ilmu dan Adab-adabnya (bagian 2)


Menuntut ilmu dan Adab-adabnya 
diambil dari kisah antara nabi Musa AS dan Hamba Allah yang shaleh (khidir AS) pada surat al-kahfi

Menuntut ilmu memiliki martabat yang mulia dalam islam dan merupakan nikmat yang besar yang dianugerahkan oleh Allah swt kepada nabi Adam AS setelah penciptaannya yaitu mengajarkannya
berbagai nama-nama benda secara keseluruhan. Setelahnya ia diuji dan ditanyakan tentang nama-nama tersebut di hadapan para malaikat, maka tak kala ia dapat menyebutkan dan menjaga ilmu yang telah diajarkan oleh Allah kepadanya
dan mensyukuri akan nikmat-Nya dengan ilmu yang telah diajarkan tersebut. Oleh karenanya Allah Swt memberinya kecukupan yang amat besar dan menempatkan nabi Adam AS beserta istirnya di dalam surga-Nya, Allah Swt berfirman :
وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلا تَقْرَبَا هَذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ البقرة: 35
{Dan kami berfirman: "wahai Adam! tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ad di sana sesukamu, (tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti
kamu termasuk orang-orang yang zalim"} (QS.al-Baqarah:35).
Dan dalam suatu riwayat Rasulallah Saw menyebutkan bahwa menuntut ilmu adalah sebuah pintu dari pintu-pintu surga dan sebuah wasilah/alat untuk sampai kepadanya, beliau bersabda:
"Barang siapa yang menuju suatu jalan guna menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkannya jalan menuju surga"
Di dalam alquran Allah Swt telah  memberikan kita contoh yang baik dalam menuntut ilmu beserta adab-adabnya kepada para ulama/guru dan hal tersebut didapati pada kisah pertemuan antara nabi Musa AS dan hamba shaleh (nabi Khidir AS)
di beberapa ayat dalam surat al-kahfi. firman Allah SWt:
{وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا* فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا* فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتَاهُ آَتِنَا غَدَاءَنَا لَقَدْ لَقِينَا مِنْ سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا* قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا* قَالَ ذَلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ فَارْتَدَّا عَلَى آَثَارِهِمَا قَصَصًا*
فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آَتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا* قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا* قَالَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا* وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا* قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا* قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَنْ شَيْءٍ حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا* فَانْطَلَقَا...} [الكهف: 60-71].
{Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut atau aku akan berjalan (terus samapai) bertahun-tahun. Maka ketika mereka sampai ke pertemuan dua laut itu,
mereka lupa ikannya, lalu (ikan) itu melompat mengambil jalannya ke laut. maka ketika mereka telah melewati (tempat itu), Musa berkata kepada pembantunya, "Bawalah kemari makanan kita, sungguh kita telah merasa letih karena perjalanan kita ke sini."
Dia pembantunya menjawab, "Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di abtu tadi, maka aku lupa (menceritakan) ikan itu dan tidak ada yang membuat aku lupa untuk mengiangatnya kecuali syaitan, dan (ikan) itu mengambil jalannya ke laut
dengan cara yang aneh sekali." Dia (Musa) berkata, "itulah temapat yang kita cari." lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula. lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan nikmat kepadanya
dari sisi Kami dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami. Musa berkata kepadanya, "Bolehkan aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu(untuk menjadi) petunjuk?". Dia menjawab,
"Sungguh engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum punya pengetahuan yang cukup tentang hal itu?". Dia (Musa) berkata, "Insya allah engkau akan dapati aku orang yang sabar
dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apapun." Dia berkata, "jika engkau  mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku menerangkan kepadamu." Maka berjalanlah keduanya,,,} (QS. al-kahfi:60-71)

Hal pertama yang harus kita ketahui dalam perkara pratek pengajaran dan pembelajaran pada ayat di atas ialah:
1. Bahwa yang menjadi murid ialah nabi Musa AS yang diturunkan kepadanya kitab taurat
2. Pelaku sebagai guru ialah hamba shaleh (nabi Khidir AS) yang dianugerahi ilmu tentang yang ghaib

Dan dari kisah di atas dapat diambil beberapa syarat dalam menuntut ilmu:
1. Mencintai dan memiliki minat untuk menuntut ilmu
yaitu seorang murid yang memilki kesukaan dan keminatan akan menuntut ilmu, karena kesukaan dan keminatan dalam menuntut sebuah ilmu dapat membantu dan meringankannya dalam menanggung susah dan derita dalam jangka waktu panjang selama perjalanannya menuntut ilmu tersebut.
firman Allah Swt:
وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا
{Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut atau aku akan berjalan (terus samapai) bertahun-tahun}. (QS. al-kahfi:60)
2. Tawadhu/Rendah hati, yaitu mencakup 2 hal:
-Bersopan santun terhadap guru
-Setiap murid harus mengetahui kualitas dan keahlian seorang gurunya
firman Allah Swt:
قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
{Musa berkata kepadanya, "Bolehkan aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu(untuk menjadi) petunjuk?"}.(QS. al-kahfi:66)
Bahwa tidaklah penyampaian soal ini menunjukan hal yang lain kecuali kepada kerendahan hati nabi Musa AS yang tidak membanggakan diri dan takabur dengan kenabian dan kerasulannya, akan tetapi
ia bertutur kata dengan sopan santun dan baik seperti layaknya kepada sang guru hingga hamba shaleh tersebut dapat mengajarinya dan nabi Musa AS belajar darinya dengan ilmu yang dianugerah
Allah kepadanya.
3. Sabar
Hal yang salah satu dibutuhkan dalam menuntut ilmu adalah kesabaran karena tidak pantas bagi seorang pelajar/murid merasa cukup jika telah mendapatkan sebagian atau sedikit ilmu lalu beryakinan bahwa ia
tidak akan direndahkan atau dikecilkan oleh orang lain yang berilmu dan tidak berhak bagi orang lain pula untuk merevisi pendapat dan analisanya.
Allah Swt telah merumpamakan dan menggambarkan keadaan suatu kelompok dari mereka yang angkuh dan merasa cukup dengan ilmunya yang sedikit dalam firman-Nya:
مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ
{Perumpamaan mereka seperti orang-orang yang menerangkan api, setelah menerangi sekitarnya, allah melenyapkan cahaya (yang menyinari) mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat} (QS. al-Baqarah:17)
Allah Swt memberi perumpamaan dalam ayat ini antara nabi Muhammad Saw dan kaum di sekitarnya yaitu orang-orang muslim dan orang-orang munafik dengan membuat dan menyalai sebuah obor/pelita
maka dari mereka ada yang menggunakan dan memanfaatkannya sebagai penerang jalan sehingga ia dapat melanjutkan perjalanannya dan terdapat juga sebagian dari mereka ketika awal pelita/obor tersebut dinyalakan
mereka tidak memanfaatkannya dan mematikannya lalu berjalan akan tetapi mereka menemukan kegelapan di sekitarnya, maksudnya mereka angkuh atas sesuatu yang telah terdapat pada diri merekai tanpa memanfaat wasilah/alat-alat
sekitarnya yang dapat memberikan petunjuk dan mereka merasa cukup dengan sedikit ilmu yang telah diperoleh.
Dan oleh sebab mereka menyimpang dengan apa yang dijanjikan Allah Swt yaitu mencegah masuknya (nurul ilmi) cahaya ilmu kepada diri mereka maka Allah Swt membiarkan mereka pada gelapnya kebodohan dan mereka
tidaklah mendapatkan hidayah. Mereka itulah orang-orang munafik yang mementingkan dan membeli dunia dengan akhiratnya setelah mereka mengetahui metode ilmu-ilmu syariat dan ma'rifatullah.
4. Kedisiplinan
Yaitu selalu mendisiplinkan diri untuk terus menuntut ilmu dan menjalakannya tanpa ada rasa sombong dan angkuh dalam diri walaupun baru sedikit yang ia dapatkan. Dan hal ini dapat dilakukan oleh seorang pelajar dengan merasa
bahwa dirinya masih (mubtadi) baru mulai belajar yang belum tahu sesuatu apapun dan ia setiap saat selalu merasa butuh ilmu tambahan/ilmu baru. Begitu pula ia merasa bahwa ilmu yang telah ia pelajari tidak belum sebanding
dengan ilmu yang telah didapatkan oleh orang lain, dengan hal ini seorang pelajar akan merasa rendah hati dan mensyukuri dengan ilmu yang telah ia dapatkan. contoh nabi Musa AS beliau adalah nabi dan rasul, ia yang lebih tahu
dan faham dengan ilmu mendekatkan diri kepada Allah dari pada manusia lainnya dan beliau juga yang mengajarkan metode-metode dari ilmu agama serta syariat-Nya.
Dan sebagaimana yang kita pelajari dan ketahui bahwa ilmu bukanlah timbunan kekayaan seseorang dan bukan pula kelompok dari segolongan manusia, akan tetapi ilmu adalah nikmat yang diberikan oleh Allah Swt
kepada makhluk-makhluk-Nya yang ia ridhoi. oleh karena itu, ilmu adalah salah satu wasilah/alat yang melahirkan ujian dari Allah Swt dan barang siapa yang bersyukur maka Allah akan menambahkan nikmat-Nya dan
barang siapa yang kufur maka wajib atasnya azab Allah yang pedih.
5. Kefahaman dan Perhatian
Seorang pelajar ketika belajar dibebani untuk memahami dan memperhatikan pelajarannya karena kefahaman dan penyerapan ilmu akan membantunya dalam meneruskan pembelajaran selanjutnya. Allah Swt berfirman;
وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا
{Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum punya pengetahuan yang cukup tentang hal itu?"}. (QS. al-Kahfi:68)
6. Ketaatan seorang pelajar kepada gurunya
Allah Swt berfirman:
قَالَ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا
{Dia (Musa) berkata, "Insya allah engkau akan dapati aku orang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apapun."} (QS. al-Kahfi:69)
7. Memilki kemampuan untuk mengambil inti sari pada dirinya
Seorang murid/pelajar tidak selalu bersandar pada gurunya dalam segala hal, karena seorang guru tidak lain hanyalah mengajarkan dan meninggalkan maklumat/pengetahuan di dalam kelas agar muridnya diminta dapat mengambil inti sari sendiri
dari pengetahuan tersebut. Dengan hal ini seorang guru dapat memfokuskan diri untuk memberikan perhatian dan pengertian yang mendalam kepada muridnya.

Dalam kisah nabi Musa AS dan Hamba Allah yang Shaleh di dalam alquran yang tersebut, kita dapat mengambil inti sari dari syarat-syarat yang wajib dalam menuntut ilmu, diantaranya:
1. Adanya minat dan kesukaan yang tinggi dalam menuntut ilmu
2. Tawadhu/rendah hati
3. Kesabaran dalam menuntut ilmu dan kedisiplinan
4. Tidak ada kesombongan walaupun sedikit dari ilmu yang ia dapatkan dengan berprasangka bahwa ia lebih tahu dari yang lainnya
5. Berusaha memahami dan memperhatikan pelajaran yang ia pelajari, kalaupun ia tidak mampu maka diharuskan baginya untuk bertanya
6. Ketaatan murid kepada guru dan tidak melanggarnya
7. Memiliki kemampuan pada murid untuk mengambil inti sari pelajaran dan tidak bolehkan bagi murid untuk selalu bersandar gurunya dalam segala hal

Adapun adab-adab yang harus dimiliki seorang pelajar/murid dalam menuntut ilmu ialah:
1. Sopan santun terhadap guru
2. Mengetahui kualitas keahlian dan kemahiran seorang guru serta martabatnya
3. Tidak ada sifat kesombongan dan keangkuhan dalam dirinya dan harus mengetahui bahwa setiap orang yang berilmu terdapat orang lebih berilmu darinya dan yang maha tahu dan pemberi ilmu (Allah Swt)
sehingga barang siapa yang menganggap dirinya seorang alim/berilmu maka sebenarnya ia bodoh
4. Selalu berniat ikhlas lillahi ta'ala dalam setiap belajar dan menuntut ilmu serta mendisiplinkan dirinya, karena ilmu merupakan salah satu pintu surga dan wasilah yang menyampaikan ke arahnya
5. Menyakini bahwa ilmu merupakan keutamaan dan nikmat dari Allah Swt yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang ia kehendaki
6. Wajib atasnya mensyukuri dengan ilmu yang telah ia dapatkan, karena barang siapa yang mensyukurinya maka apa yang dia ajarkan kepada orang lain dengan ilmu yang ia dapatkan menjadi
baik dan benar dan bukan menutup-nutupinya dari orang lain. Rasulallah Saw bersabda:"Barang siapa yang menutup-nutupi sebuah ilmu maka Allah akan mengekangnya dengan kekangan api pada hari kiamat"
dan beliau juga bersabda:"Sebaik-baik kamu adalah yang belajar alquran dan yang mengajarkannya" dan beliau juga bersabda:"Aku diutus sebagai pengajar".
7. Memerangi hawa nafsu dan syahwat pada dirinya, yaitu menahan keseringan berbicara dan mengeluarkan pendapatnya dihadapan gurunya.











Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ngaji Kitab Hikam Pasal 1

Pemantapan nilai-nilai keharmonisan di lingkungan masyarakat, salah satunya menjaga lisan

Menuntut Ilmu & Adab-adabnya