MASYARAKAT MADANI

MASYARAKAT MADANI

Masyarakat madani merupakan model masyarakat kota yang dibangun oleh Nabi Muhammad selepas hijrah mekah ke Madinah. Dunia mengakuinya sebagai model masyarakat yang paling maju pada saat itu. Pola masyarakat madani oleh orang barat kini disepadankan dengan civil society yang dipandang modern oleh mereka.

Kata Madani berasal dari kata Madinah, yang berarti kota, berbeda dengan kata masyarakat desa. Dalam hal tatanan sosial dan ilmu pengetahuan, masyarakat kota lebih dinamis. Masyarakat kota lebih objektif, lebih egois, dan lebih sadar hukum, sehingga mereka taat pada aturan dan prinsip yang mereka bangun.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, masyarakat madani adalah masayarakat sipil yang menjunjung tinggi norma, nilai-nilai dan hukum yang ditopang oleh pengusaan tekhnologi yang berpereradaban yang didasarkan oleh iman dan ilmu.  

Berkaitan dengaan masyarakat madani, mari kita simak satu ayat dalam surah at-Taubah/9:71

وَٱلْمُؤْمِنُونَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍۢ ۚ يَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُونَ ٱلزَّكَوٰةَ وَيُطِيعُونَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ ٱللَّهُ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌۭ

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Ayat ini memberi pesan kepada orang-orang beriman baik laki-laki maupun perempuan agar menyandang sifat-sifat yang seharusnya melekat pada mereka. Sifat-sifat tersebut diantara lain:

Pertama, keimanan. Merupakan sifat yang menjadi landasan ideal dan spiritual. Kesamaan dalam akidah atau landasan spiritual yaitu mereka sama dalam kepercayaan kepada Allah yang Esa (ketauhidan) dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun. Kesamaan dalam pedoman hidup yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang diyakini sebagai pedoman agar selamat dunia dan akhirat dan kesamaan dalam tujuan hidup yaitu meraih ridho Allah Swt., sejahtera lahir & batin, dari dunia sampai akhirat (robbana aatina fi dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqinaa adzabannar)*doa.

Atas tiga dasar kesamaan prinsip inilah setiap mukmin haruslah menjadi ba’dhuhum auliyaau ba’dh terhadap mukmin yang lainnya. Artinya, saling mengasihi, menyayangi, tolong-menolong dalam kebaikan karena ada kedekatan antara mereka.

Kedua dan ketiga ialah hak, kewajiban, kesadaran hukum. Sesama mukmin hendaklah istiqomah melakukan amar ma’ruf, yaitu memerintahkan yang lain untuk berbuat kebaikan dan kebajikan yang dipandang baik dari sudut pandang agama atau akal. Dan hal lain yang tak boleh ditinggalkan pula nahyu an mukar, yaitu saling mencegah untuk berbuat kemungkaran atau suatu perilaku yang dianggap buruk dan jelek menurut agama/syara’ atau menurut akal.

Cukuplah menjadi nilai yang tinggi bahwa amar ma’ruf dan nahyu an mukar menjadi bagian integral bagi umat yang ingin masuk dalam kelompok khoiru ummah yaitu, sebaik-baiknya umat yang puji oleh Allah dalam ayat al-Qur’an. Beruntung sekali dan bahagia  keberadaan sebuah kelompok dalam masyarakat yang mengawal tugas kedua unsur tersebut. Dan penyebab porak-poranda dalam masyarakat apabila tersingkirnya dua unsur tersebut.

Keempat, spritualitas. Sebagai realisasidari keimanaan seseorang haruslah ia mendirikan shalat yang yang lima waktu dalam sehari-semalam dengan memperhatikan syarat, rukun dan etika  dalam melaksanakannya. Mendirikan shalat merupakan hubungan manusia dengan Tuhannya, selalu ingat bahwa Allah lah yang memberikan daya dan upaya nya untuk selalu beramal shaleh dan terjauhkan dari tipu daya setan.

Kelima, kepedulian sosial. Yaitu menunaikan zakat sebagai bentuk rasa kesetiakawanan sosial, empati dan berbagi dengan yang lain. Dengan berzakat manusia tidak lagi kikir, egois dan materialistis. Dengan berzakat, kesenjangan ekonomi berangsur-angsur akan teratasi.

Keenam, rujukan agama. Tentu dalam berbagai persoalan kehidupan diperlukan rujukan. Dalam islam yang betul-betul rujukan kredibel adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya dalam semua lini kehidupan.

Pada akhirnya, Allah akan memberikan jaminannya kepada muslim yang mampu yang melakasanakan 6 sifat dan perilaku di atas  untuk mendapatkan rahmah dan kasihsayang-Nya. Tidaklah berat bagi Allah karena Allah adalah Dzat Yang Maha Perkasa dan semua kebijaksanaa-Nya pasti mengena dan menuai hasil, karena Allah lah Dzat Yang Maha Bijaksana.

 

Referensi:

-          Tafsir al-QurthubiMuḥammad ibn Aḥmad Qurṭubī.

-          Keberkahan al-Qur’an, Ahsin Sakho Muhammad.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ngaji Kitab Hikam Pasal 1

Pemantapan nilai-nilai keharmonisan di lingkungan masyarakat, salah satunya menjaga lisan

Menuntut Ilmu & Adab-adabnya